Maafkan aku jika selama ini aku selalu menyalahkanmu.
Menuduhmu bersalah atas semua kekacauan yang ada atau kesakitan yang terlanjur
tercipta. Maafkan aku yang selalu memakimu, berteriak keras atau bahkan
menghujatmu dengan berbagai macam hujatan dan makian. Maafkan aku..
Di pagi tadi, aku menyadari bahwa kamu tidak bersalah,
tetapi aku.
Aku yang salah terlalu percaya pada semua kata-kata
manismu. Aku yang salah mengartikan kebaikanmu, perhatianmu, kedekatan kita.
Aku yang salah bersikap sehingga kamu merasa bersalah atas kita yang tidak
kunjung menyatu. Aku yang salah karena pada akhirnya membuatmu menyatakan
cintamu kepadaku, yang mungkin saja tidak kau kehendaki. Aku yang salah karena
selanjutnya memperlakukanmu layaknya kekasih; memanggilmu dengan panggilan
sayang, memintamu menemui keluargaku, atau merajuk saat kamu tidak bisa datang.
Aku yang salah karena selalu marah, kemudian memicu amarahmu dan akhirnya
bersikap seolah mengabaikanku. Aku yang salah atas kita yang akhirnya menyatu
namun berpisah di lain waktu.
Aku juga bersalah atas semua kekakuan yang tercipta di
tengah hangatnya keluargamu. Aku juga bersalah atas kebekuan yang muncul di
antara sahabatku, pun kekeluan yang terjadi di antara kita. Semua seakan bisu,
tuli dan buta atas apa yang pernah terjadi pada kita. Aku maklum, karena bagaimanapun,
kita adalah ketidak-mungkinan yang sampai kapanpun tidak akan mungkin menjadi
suatu kemungkinan. Sudah sepantasnya aku bersikap seolah kita tidak ada, tidak
pernah ada, dan tidak akan ada.
Kepada kamu,
Sekali lagi maafkan aku. Jika kamu mau, anggap saja
surat ini tidak pernah ada, pun hubungan kita. Jika saja aku bisa, aku akan
berharap semua kekacauan ini tidak pernah terjadi dan kita masih tetap berteman
seperti dulu. Sayangnya aku tidak bisa. Bagiku, berjauhan denganmu seperti ini
terasa lebih baik, aku tidak mau meminta lebih lagi dari ini.
Dari Aku,
yang masih merasa kalut setiap melewati rumahmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar