Sabtu, 19 Januari 2013

Apa Rasanya?


Apa rasanya?
Mendekapmu erat dalam pelukan.
Merasakan hangatnya melebur dengan kerinduan.
Menyandarkan lelah dan penat,
Lalu menggantungnya di bahumu.

Apa rasanya?
Mendapat kecupmu di keningku.
Terpejam dalam keheningan berbalut rasa;
Bahagia.

Apa rasanya?
Diusap air mata olehmu.
Membiarkan peluh dan keluh kering di jarimu.
Menguapkan tangis,
Sebab senyummu

Lalu, apa rasanya?
Mencium tanganmu.
Mendekatkan ujung hidungku dengan punggung tanganmu.
Mengaminkan segala doa tentang kita
selepas subuh yang beku.

Jadi, seperti apa rasanya?
Kalau boleh,
Aku ingin merasakannya.

Senin, 14 Januari 2013

Dan Kepadamu, Logika.


Haaaaaaai, apa kabar? Saya mau posting sesuatu malam ini. Sebelumnya, saya pernah posting Surat Dariku, Untuk Hati. Nah sekarang, ini surat balasan dari hati. Happy reading ya J


Hei, kamu. Masih berada di kepala itu?
Pantas saja, kau sombong sekali.
Jangan karena posisimu lebih tinggi daripadaku,
Kau bisa seenak hatimu begitu.
Tunggu, kamu tidak punya hati.

Kau benar, dia mantanku.
Yang pernah membawaku melesat ke awang-awang.
Yang pernah memberiku milyaran harapan,
Lalu menyakitiku begitu dalam.

Hei, ada apa denganmu?
Diam sajalah, berhenti berkomentar.
Aku baik-baik saja.
Tanpa luka ini pun aku memang terlahir rapuh.
Tidak sepertimu.
Tapi apa pedulimu?!

Kau ingin tahu mengapa aku tidak pernah mengajakmu bermain?
Kau sungguh ingin tahu? Baiklah.
Kamu itu kaku, sungguh.
Sombong, angkuh, merasa paling benar.

Kita memang beda.
Kamu benar, tapi aku juga tidak salah.
Terkadang, kita memang harus jatuh dan terluka,
Lalu bangkit lagi, dan terluka lagi.
Dengan begitu kita akan lebih kuat jika suatu saat harus terjatuh lagi.

Kamu tidak mengerti?
Wajar, kamu memang tidak pernah jatuh.
Karena itulah, aku tidak ingin bermain denganmu.

Kita bertemu lain kali saja, ya?
Ketika kita sudah sejajar.
Kamu yang merendah,
atau aku yang menaiki tangga untuk sampai kepadamu.

Tunggu, aku tidak punya tangga.
Baiklah, lain kali saja.


Dari Aku, hati yang berada di bawahmu.

Kamis, 10 Januari 2013

Untuk Kamu, Mantan Pacarku.



Hei kamu. Iya, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Akupun begitu, meski aku tahu kamu tidak akan menanyakan kabarku. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar sajakah? Masihkah kamu telat makan? Dulu aku yang sering mengingatkanmu untuk makan, meski hanya lewat pesan SMS. Karena dulu kita jauh; kamu di Jakarta, aku di Bogor. Orang bilang itu LDR; Long Distance Relationship. Hubungan dimana kita hanya bisa memeluk lewat doa, dan mengecup lewat gambar. Sedih ya? Tapi kamu pasti sekarang sudah tidak sedih lagi. Sudah ada dia di sampingmu. Hei, mengapa kamu terbelalak seperti itu? Apa kamu heran aku sudah mengetahui hal itu? Aku sudah tahu. Dia yang di sampingmu sekarang pasti lebih baik, lebih sabar dan lebih cantik dariku. Lihatlah, dia tersipu malu. Tidak mengapa. Sebelum lupa, aku ingin bilang kalau untuk itulah aku menulis surat ini. Tidak usah khawatir aku akan marah jika ia ikut membaca juga. Bukan masalah yang besar, tapi terima kasih sudah memikirkan perasaanku.

Hei kamu yang dulu sering menggenggam tanganku, pasti kamu sekarang bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahui hubungan kalian, bukan? Kalau tidak bertanya pun tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya. Aku tahu, kalian sudah saling mengenal lama. Kamu mengenalnya karena ia teman sekelasmu. Kalian dekat semenjak masuk kuliah dulu. Aku tahu itu, kamu dulu pernah menceritakannya. Kalau aku tidak salah, dia perempuan yang sering meledek pipimu itu. Ya, kamu lelaki berpipi lucu, chubby macam perempuan. Pipi yang dulu sering kucubit saking gemasnya ternyata memancing orang lain untuk mencubitnya juga ya? Lalu kamu membalasnya dengan meledek poninya, aku tahu itu dari dinding facebookmu. Dia punya poni seperti Widi Vierra, tapi kamu meledeknya dengan poni anak kelas 5 SD. Aku tertawa geli saat itu, sedikit kesal karena poniku juga sebenarnya sama dengannya; poni anak kelas 5 SD. Tapi kamu pasti tidak tahu, karena aku berjilbab, Sayang. Hei, apa barusan kamu tertawa? Karena mengetahui poniku atau karena aku memanggilmu Sayang?

Aku juga tahu, setelah proses ledek-meledek itu, kalian mulai semakin dekat. Dia yang baru saja putus hubungan dengan mantan pacarnya sering curhat padamu, bukan? Aku pernah membaca salah satu pesan SMS darinya di ponselmu sewaktu kita bertemu di rumahku. Malam itu kamu tampan sekali. Kamu membawa martabak keju kesukaanku. Sudah menjadi kebiasaanmu mengotak-atik ponselku tiap kita bertemu; melihat playlistku, melihat foto-fotoku dan mungkin membaca pesan masuk juga. Akupun begitu; senang melihat playlistmu, melihat foto-fotomu dan membaca pesan masukmu. Malam itu aku juga melihat pesan darinya. Dia sedih karena melihat timeline twitter mantannya. Saat itu aku hanya tersenyum karena mengetahui kamu tetaplah lelaki yang baik; yang tidak pernah menolak mendengarkan keluh kesah orang lain. Di saat yang sama akupun bangga memiliki lelaki sepertimu, walau tanpa kusangka kebanggaanku itulah yang menghantarkanmu ke gerbang kenyamanan dengan orang lain, dengan dia tepatnya.

Sayang, tahukah kamu sebulan sebelum hubungan kita berakhir, aku sudah memiliki firasat itu? Saat itu, kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku, jarang meneleponku bahkan kamu jarang membalas pesanku. Aku yang berusaha sabarpun ternyata tetap memiliki rasa penasaran, Sayang. Aku mulai mencari tahu kabarmu lewat akun facebook dan twittermu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku mulai berprasangka yang bukan-bukan, tapi langsung kutepis karena kamu bukan lelaki yang suka jika aku berpikiran negatif tentangmu. Aku menghindari sekali berpikir tidak jelas khas perempuan gemini; yang memiliki ‘anak kembar’ di otaknya. Tidak baik jika aku membiarkan ‘anak kembar itu’ mengambil alih cara berpikirku, itu menurutmu. Dan aku menurutimu. Aku mengiyakan saja semua kata-katamu karena kepercayaan adalah modal suatu hubungan, katamu lagi. Aku percaya itu, karena kamu sudah mengatakannya di awal hubungan kita, jauh sebelum dia datang.

Firasat buruk itu semakin menguat pada dua minggu terakhir kebersamaan kita. Kamu benar-benar menghilang dari hidupku, menjauhiku layaknya orang asing. Kamu pulang ke Bogor, ke rumah orang tuamu, tetapi kamu tidak menemuiku. Aku yang mulai putus asa dengan hubungan ini akhirnya memutuskan untuk menemuimu lebih dulu. Kamu yang sedang tertawa di telepon hanya heran menatap kehadiranku di rumah orang tuamu. Masih jelas kuingat kata-katamu saat itu, bahwa mungkin kita sudah tidak sejalan lagi. Bahwa kamu mulai pesimis terhadap hubungan jarak jauh kita, bahwa kamu mulai muak menghadapi kelakuan childishku. Tangisku pecah saat mendengar kata itu, muak. Apa kamu sungguh harus menggunakan kata yang sekasar itu padaku? Akupun pulang dengan hati kecewa, Sayang. Putus dan mendengar kalimat kasarmu bukanlah akhir yang kuinginkan dari cerita indah kita. Kita dulu memulainya dengan manis dua tahun lalu, dan apakah kita harus mengakhirinya dengan cara semenyakitkan ini?

Dan dua minggu setelah hubungan kita berakhir, kamu menyatakan cinta padanya. Aku tahu dari timeline twitternya, Sayang. Rupanya hanya butuh waktu yang sebentar untukmu mencari penggantiku. Tentu saja, kamu sudah memilikinya jauh sebelum itu, juga menyadari keberadaannya jauh lebih lama dari yang kutahu. Kalian sungguh pasangan yang serasi. Kamu dan dia sama-sama menginginkan pasangan yang tidak hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman, bukan? Sedang aku adalah perempuan yang sensitif, serius dan kaku. Lelaki itu, mantan pacar kekasihmu, juga sepertiku, aku melihatnya melalui timeline twitternya dan curhatan kekasihmu dulu. Cinta akan menemukan pasangan yang sejalan dengannya dan menyisihkan yang tidak sejalan, aku percaya itu. Aku dan lelaki itu, sekarang sedang sama-sama menunggu dipertemukan dengan yang sejalan oleh cinta yang juga mempertemukan kalian.

Hei, kenapa matamu terbelalak seperti itu? Bukan kamu, Sayang. Tetapi kekasihmu. Apa kamu heran aku masih begitu mengingat detil tentang kekasihmu? Kamu tidak perlu khawatir, cantik. Aku mengikhlaskan kalian, sungguh. Hei cantik, rileks. Mengapa alismu masih mengeryit begitu? Kamu pasti heran kenapa aku bisa persis membaca pikiranmu. Aku juga perempuan, cantik. Sama sepertimu. Bukankah kami, para perempuan, punya radar canggih yang akan berbunyi nyaring ketika ada perempuan lain yang juga menyimpan rasa yang sama kepada pasangan kami. Lagi-lagi aku harus mengatakan, aku bukan perempuan yang patut kau khawatirkan akan merebut kembali pasanganmu. Aku turut berbahagia melihat kebahagiaan kalian sekarang, yang sepertinya jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengan saat bersamaku.

Tidak ada tujuan lain yang menggerakkan jemariku menuliskan surat ini, selain ingin mengucapkan selamat. Selamat untukmu, Sayang, telah menemukan dia yang kaumau. Jaga hatinya, jangan kausakiti dia seperti dulu kau pernah menyakitiku. Aku sudah memaafkan perbuatanmu, mungkin itu bagian yang Tuhan berikan untukku. Selamat juga untukmu, cantik. Kamu memang pantas mendampingi lelaki hebat seperti dia yang sekarang ada di sampingmu, orang yang sama yang pernah ada di sampingku dulu. Melalui surat ini juga aku ingin memberi tahu. Tepat delapan bulan setelah kepergianmu, ada lelaki sederhana yang melamarku melalui ayahku. Dia memang tidak romantis sepertimu, juga tidak sehumoris dirimu. Tapi dia bisa membuatku tenang hanya karena melihat senyumnya. Dia, yang sekarang memasangkan cincin di jari manisku, tidak menawarkan janji seindah dirimu, tetapi dia memberikan keyakinan. Bahwa jika keadaan menjadi sulit, dialah orang pertama yang bisa kuhubungi, yang bisa meminjamkan bahunya untuk kujatuhi air mata. Cinta memang tidak seindah dongeng, begitu katanya. Tetapi cinta bisa tetap indah karena ada dua orang yang saling berjanji untuk membuat dongengnya sendiri sampai waktu memisahkan.


Dari perempuan yang mencintaimu sampai kehilangan dirinya sendiri,
dulu.

Jumat, 04 Januari 2013

Kamu dalam 12 Paragraf


      Hei kamu, yang menulis surat untukku tertanggal 31 Mei 2012. Ini balasan dariku. Bukan puisi, prosa, apalagi cerpen. Hanya pendeskripsian tentang kamu dalam 12 paragraf. Aku ingin mengingatkan bahwa ini akan sedikit panjang. Aku harap kamu tidak bosan. Sudah siap?

     Untuk kamu yang rumahnya hanya berjarak 150 meter dari rumahku. Masih ingatkah kamu saat kamu mengirim permintaan pertemanan ke  akun Facebookku? Entah apa yang mendorongmu melakukan itu, dan entah apa yang mendorongku untuk mengkonfirmasi permintaanmu. Tapi yang aku tahu, hari-hariku berubah sejak saat itu.

      Dan masih ingatkah kamu sapaan pertamamu di dinding Facebookku? Menanyakan kabarku, bagaimana kuliahku dan hal-hal lain yang tidak persis kuingat namun tersimpan manis disana. Aku yang hanya menanggapi itu dengan senyum biasa tanpa rasa apapun karena yang kuingat kamu adalah teman kecilku, karena kamu adalah sepupu sahabatku.

   Tiga bulan selanjutnya, hari-hariku berjalan normal dengan kesibukan kuliahku, kamu dengan pekerjaanmu. Aku dan kamu tidak lagi saling sapa di dinding Facebook, tapi aku masih mengingat baik ketika akhirnya aku dan kamu saling menyapa di dunia nyata. Entah apa yang terjadi dengan susunan bintang-bintang di galaksi ketika aku dan kamu menjadi sering berpapasan, bertemu di rumah sahabatku. Melihatmu sekilas di perjalanan menuju kampusku.

      Firasatku tidak mengatakan apa-apa ketika aku menghadiri pesta ulang tahun sahabatku, yang juga sepupumu. Aku yang datang terlambat secara kebetulan mendapat sisa tempat duduk persis di seberangmu. Aku suka bertemu denganmu malam itu. Kamu rapih dengan kemeja yang aku tidak ingat berwarna apa. Dan disaat yang sama, secara aneh aku ternyata tidak suka melihatmu yang duduk ditemani perempuan manis berjilbab yang tersenyum simpul tanda senang ditambah pipi yang merah merona tanda malu. Aku yang tanpa sadar terus menerus memandang iri kalian berdua lalu tersentak kaget ketika mendengar sahabatku memanggil namaku di barisan ucapan terima kasihnya. Aku tersenyum pada sepupumu dan mulai berusaha memalingkan pandang darimu.
   
         Di menit-menit selanjutnya pada malam itu, aku yang telah melupakan hadirmu kembali tersentak kaget ketika tiba-tiba kamu sudah duduk di sebelahku, menanyakan nomor ponselku. Aku menyebutkan nomorku dengan bayangan kamu dan perempuan tadi di otakku. Kamu menyimpan nomorku dan berjanji akan menghubungiku, aku pun tersenyum sambil diam-diam melupakan kata-kata yang belum kering dari bibirmu dengan kembali hanyut bersama teman-teman SMAku dan kenangan di dalamnya.

      Bulan penuh menampakkan dirinya ketika aku berjalan pulang malam itu. Langkah demi langkah menjejak meghempas pelan debu jalan dan aku pastikan kamu ada di salah satu langkah yang kutinggalkan, bersama juga dengan perempuan itu jika aku boleh menambahkan. Aku sudah bersiap-siap untuk tidur ketika serombongan nomor acak yang tidak kukenal menyapa melalui sebuah pesan singkat. Terpikir untuk mengabaikan tetapi entah mengapa tanganku tiba-tiba sudah membalas dengan menanyakan siapa kamu yang mampir ke inbox-ku. Dan ternyata itu kamu, empat huruf yang tadi kutemui di pesta ulang tahun sahabatku. Kita mengobrol lewat barisan pesan singkat, yang kemudian terhenti karena aku tertidur. Malam sudah terlalu larut bagiku, dan kamu menutupnya dengan ucapan selamat malam yang tidak sempat kubalas namun kubaca dengan bibir melengkung keesokan paginya, bertahan sampai matahari tidur di peraduan dan berganti bulan yang meronda menjaga dunia.

          6 hari setelahnya, aku berulang tahun. Puluhan ucapan selamat bergandeng doa datang dari keluarga dan teman-temanku, namun ternyata ucapan darimulah yang mampu melonjakkan jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga mengacak-acak isi perutku. Aku pun tersenyum, tapi seketika bayangan perempuan berjilbab itu menonjok pipiku sesaat setelah aku menanyakan identitasnya pada sahabatku, yang juga sepupumu. Dia, tiga huruf yang menyadarkan aku betapa kamu terlihat begitu serasi dengannya pada malam itu. Aku tersenyum, getir. Tekadku bulat, kali ini aku akan melupakanmu.

           Hari demi hari berganti yang kemudian tanpa terasa sudah layak untuk dihitung sebagai satuan bulan. Darimulah aku tahu bahwa satuan waktu itu sudah berwujud 5 bulan. Ya, ternyata sudah 5 bulan tepatnya kamu datang dan pergi di hidupku. Aku bermasalah dengan ingatan jangka pendek, angka, hari dan segala sesuatu yang bisa mengukur satuan waktu. Yang kuingat bahwa kamu ada dalam waktu yang cukup lama. Dalam waktu yang cukup lama itu juga aku kemudian tahu bahwa kamu memiliki rasa itu, bahwa kamu menambahkan kata kepemilikan yang merujuk pada dirimu di akhir namaku, bahwa ternyata perempuan berjilbab itu bukan siapa-siapa dan hal-hal lain yang tidak kuingat persis namun bisa membuat jantungku kembali melonjak, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga mengacak-acak isi perutku. Kamu persis seperti bulan yang datang ketika aku masih ingin menikmati matahari, seperti pelangi yang muncul ketika aku masih ingin menari di bawah hujan, atau seperti fajar yang terbit ketika aku masih ingin menatap pendar bintang. Kamu yang indah, tetapi pergi dan kembali di saat yang tidak tepat. Kamu pergi saat aku benar-benar ingin menghabiskan liburan Idul Fitri bersamamu, dan kembali saat aku benar-benar sudah mengikhlaskan kepergianmu.

          Hei kamu yang sering cemberut ketika kupanggil Mister. Sudah ratusan cerita tentang kamu yang tidak ada habisnya kuceritakan kepada dua sahabatku, yang salah satunya adalah sepupumu. Ratusan cerita tentang orang yang sama, tentang harapan yang pupus namun di lain waktu kembali bermekaran, tentang sepi yang menjadi ramai karenamu namun kembali menyepi di lain hari. Ratusan cerita yang kuceritakan sampai berbusa; menggantung di dinding kamar, yang terbang tertiup angin maupun yang hilir mudik di ponsel kami, membuat gaduh karena deringnya. Cerita yang mungkin hanya kautahu sebagian karena bagian lainnya rapat kusimpan dan hanya kuceritakan pada Tuhan.

             Hei kamu yang manis ketika tersenyum, seperti Tuhan menambahkan ice cream cokelat di lengkung bibirmu. Tahukah kamu bahwa kini aku memiliki kebiasaan baru, seperti menyelipkan namamu di rapalan doa yang kupanjatkan di lima waktu ibadah wajibku. Kamu juga pasti belum tahu bahwa kini selalu datang desir aneh yang menjalar di setiap penyebutan namamu, juga sensasi aneh di perutku ketika teringat kata-katamu seperti ada kupu-kupu berterbangan liar disana. Itu semua salahmu! Dan lucunya takdir yang terkadang mengecoh logika ketika aku yang tidak bisa melihatmu padahal aku sangat menginginkan itu, atau kamu yang tiba-tiba menampakkan diri ketika aku berusaha menghindarimu. Tapi itulah sesuatu yang kita sebut ketentuan Tuhan. Kamu yang datang ketika aku sudah mengikhlaskanmu, dan mungkin nanti aku juga harus melepas pinjaman Tuhan yang berwujud dirimu ketika datang tenggat waktunya.

            Dan inilah paragraf terakhir, yang jika ingin kauhitung genap berjumlah 12. Angka yang kusuka karena mengingatkanku pada dirimu. Angka dimana tangan kirimu dan tangan kananku menjadi satu genggam, dimana aku dan kamu luruh menjadi satu kata, kita.



Dari perempuan yang awal namanya berabjad sama denganmu
El Balgis tanpa Al Katiri

Happy New Fear

Long time no see ya? Saya baru sempet ngepost lagi. Banyak banget kendalanya setiap mau ngepost kemarin, mulai dari terganjal tugas, kerjaan, masalah percintaan #tsaaah sampe masalah yang paling crusial, ga punya pulsa hehe. Ga kerasa udah tahun baru aja. Gimana malam tahun baruannya? Yang galau karena di rumah aja siapa? #nyaritemen

So, here we are, di awal tahun 2013. Sempet ada issue kiamat di tanggal 21-12-2012, tapi nyatanya alhamdulillah yah our earth is still keep rolling sampe sekarang. Saya juga sempet kebawa parno sih, sempet mau bolos kuliah aja di tanggal itu supaya kalo ada kiamat beneran saya lagi kumpul sama keluarga, tapi nanti kalo bolos ga dapet uang jajan. Akhirnya kuliah juga deh #apasih.

Anyhoo, kali ini saya mau bahas soal tahun baru aja deh. Diawal tahun baru biasanya banyak banget yang bikin resolusi. Mulai dari target dapet kerjaan baru, gadget baru, atau pacar baru #eh. Ada juga yang pasang target berhenti ngerokok, diet *itu resolusi saya*, dan lain-lain. Biasanya kita mulai bikin resolusi di tanggal 1 dan kemudian menyerah di tanggal 10 *ayo ngaku!*

Punya resolusi sah-sah aja kok guys, buat penyemangat. But in my own experience, saya ga pernah mau bikin resolusi. Saya selalu semangat bikin resolusi di tanggal 1 tapi kemudian menyerah di tanggal 10 *akhirnya ngaku juga*. Gagalnya resolusi saya sebenernya lebih karena faktor malas sih, kayak resolusi diet saya yang emang selalu gagal karena saya males ngurangin porsi makan dan males olahraga tapi pengen punya badan selangsing Luna Maya, kan ngaco namanya! #okeinimulaingelantur

Back to our topic, new year means new fear. Akan selalu ada ketakutan-ketakutan baru dalam menghadapi tahun baru. Ketakutan akan masalah baru, kesulitan baru, tantangan baru dan ketakutan-ketakutan lainnya. Tapi apa gunanya masalah kalau bukan untuk menguji? Apa gunanya musibah kalau bukan untuk menguatkan? Masalah dan musibah datang untuk mendewasakan, bukan?

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Itu cuma satuan waktu kawan! Kitalah yang membuat satuan waktu itu bermakna oleh usaha dan tekad yang kuat. Tidak ada alasan lagi untuk bilang, "gimana nanti aja deh". Waktu memang terus berjalan, tapi kitalah yang memegang stirnya. Waktu memang terus mengalir, tapi kitalah yang mengendalikan. Rasakan ketakutan itu lalu melangkahlah maju!

Happy New Year!