Jumat, 14 September 2012

Mapan itu Perlu (?)


Ketika menjelang usia 20an, setiap orang baik laki-laki maupun perempuan pasti mulai terpikir untuk menikah, bukan? Mulai dari hanya sekedar bercandaan diantara teman-teman, seperti “Kapan kawin cuy? Kambing gue aja udah berkali-kali kawin“, atau seperti “Mana pacarnya, El? Truk aja punya gandengan masa elu ngga?” dan bercandaan sadis lainnya. Sampai akhirnya orang-orang di sekitar kita melakukannya satu persatu. Saya tentunya, di usia 19 tahun ini mulai berpikir tentang pernikahan. Banyak teman-teman saya yang bahkan ketika baru saja lulus SMP langsung menikah (believe it or not, but it’s true) . Barisan teman-teman muda saya yang menikah makin banyak lagi ketika saya lulus SMA.  Mereka yang sudah punya pacar, tidak melanjutkan kuliah dan juga tidak bekerja extremely malah memutuskan untuk menikah. Kadang saya iri dengan teman-teman yang menikah muda. Dulu saya sempat punya keinginan untuk menikah muda. Lucu aja rasanya membayangkan saya yang masih kuliah tapi sudah bersuami. Pagi-pagi harus menyiapkan kebutuhan suami bekerja seperti membuat sarapan, memilihkan kemeja dll. Siangnya kuliah, lalu malamnya bermesraan dengan suami. Tapi mimpi memang tidak seindah dunia nyata. Saya mulai menemukan kekecewaan-kekecewaan dalam penikahan muda (cagela).

Pertama, curhatan dari seorang teman saya yang menikah ketika lulus SMP. Awalnya, ketika melihat dia dan suaminya di pelaminan, saya merasa iri karena di usia yang sangat muda dia sudah berani memutuskan untuk menikah. Di usia di bawah 20 tahun dia sudah memasrahkan masa depannya ditangan suaminya sendiri. Ketika awal pernikahan, saya sempat bertanya kepada teman saya bagaimana rasanya menikah muda. Dan dia menjawab dengan jawaban tipikal remaja, “Ya enak lah, tiap tidur ada yang nemenin”. Dan  selang setahun saya bertemu lagi dengan teman saya itu, saya kembali melontarkan pertanyaan yang sama seperti waktu awal dia menikah, dan dia menjawab, “Gila, batin banget. Suami gue berhenti kerja, sekarang kerjaannya cuma di rumah. Makan nebeng sama nyokap. Gue jadi nyesel dulu kawin buru-buru padahal harusnya gue bisa sekolah dan kerja. Jangan sampe deh elu kaya gue”.

Ajaib aja gitu nikah muda menurut saya, ketika kita sebagai seorang perempuan yang memutuskan untuk menikah kemudian harus menggantungkan kehidupan kita kepada suami kita. Seharusnya kan kita berpikir lebih jauh lagi sebelum memutuskan untuk menikah. Gimana nanti kalau tiba-tiba suami kita keluar dari pekerjaannya? Kita sebagai istri juga harus bertanggung jawab terhadap ngebulnya dapur kita dong? Pilihan akan menjadi mudah ketika kita yang seorang perempuan ini mempunyai keahlian untuk bekerja, tapi bagaimana dengan perempuan yang menikah muda? Jangankan untuk bekerja di sektor formal, pendidikan saja hanya sebatas tamatan SMP.

Curhatan kedua datang dari teman kuliah saya yang menikah di bulan-bulan awal masa perkuliahan. Memang kehidupan pernikahannya tidak semiris teman SMP saya. Suaminya dewasa, mapan dan tipikal suami idaman wanita. Dan lagi-lagi saya harus mengakui bahwa saya memang iri dengan teman saya yang satu ini. Tapi kemudian kejadian hari demi hari perkuliahan membuat saya sadar bahwa saya memang harus berpikir ulang tentang mimpi saya menikah muda. Biar terlihat keren, sebutlah teman saya dengan inisial J (walaupun sebenernya lebih terlihat seperti tersangka di koran kriminal ya hehe). J harus menjalani hari-hari yang merepotkan. Sebagai seorang mahasiswi yang sudah bersuami, dia punya kewajiban mengurus rumah tangga dong. Walaupun J sudah terbiasa mengurus rumah sejak remaja, tetap aja hal ini kemudian menjadi merepotkan buat saya. J memang tidak pernah mengeluh soal kewajibannya mencuci baju, memasak, beres-beres rumah dan ehhm melayani suaminya. Tapi kemudian yang menjadi masalahnya adalah J mulai kehilangan waktu sebagai remaja yang butuh pergaulan. Waktu bermainnya mulai berganti dengan waktu mencuci dan segudang pekerjaan rumah lainnya. Ketika ada tugas kelompok, J memang selalu punya waktu, tapi malah kita sebagai teman yang kadang ngga enak sama keadaannya. Tiap kali kita ajak nongkrong sepulang kuliah, J memang selalu ikut. J yang selalu bilang “slow aja sama laki gue mah, dia ga pernah marah kalo gue main sama kalian”, tapi malah kita yang jadi sungkan. Ujung-ujungnya kita yang sebagai teman harus sadar waktu kalau lagi ngumpul bareng, takut bikin suami J khawatir karena J pulang telat.

Kejadian-kejadian tadi menjadi semacam sentilan buat saya yang pengen banget nikah muda. Harusnya saya ngga semudah itu punya mimpi menikah muda. Saya suka anak kecil, jadi saya sering membayangkan hamil dan punya bayi sendiri, tapi saya lupa membayangkan bagaimana ketika nanti bayi mungil saya tumbuh besar dan butuh banyak biaya untuk makan dan sekolah.

Jadi ketika ada yang bertanya apakah mapan itu perlu, saya rasa jawabannya adalah absolutely yes. Kadang, kaum Adam berpikir Hawa sungguh terlalu matre ketika hanya mementingkan masalah uang bukan cinta. Padahal sebenarnya, bukan karena kita matre tapi jelas-jelas kita tidak ingin merasa insecure terhadap masa depan kita dan anak-anak kita kelak. Pernikahan butuh cinta, itu sudah pasti. Kita tentu ngga pengen dong menghabiskan hidup kita dengan pasangan yang tidak kita cintai. Tapi masalah dalam hidup ngga selamanya bisa selesai dengan cinta kan, guys. Emang bisa beli beras pake cinta? Yang ada bisa dibilang ngegombalin kasirnya dong kalo beli beras di supermarket pake cinta, contohnya :

Cowo                    : (nyerahin beras, minyak, sabun cuci, sabun mandi  ke kasir supermarket)
Kasir                     : “Semuanya 310.000, Pak. Bayar cash atau pake kartu kredit?”
Cowo                    : (Ga punya uang, nikah cuma modal cinta) Kalo bayarnya pake cinta aja, boleh?
Kasir                     : (bingung. Ngerasa digombalin)
Istri si Cowo          : (kesel. ngambil tabung gas 3 kg, ngelemparin ke muka suaminya).

So, jelas mapan itu penting. Kita ngga akan bisa bikin hajatan mewah kalau calon suami kita ngga mapan. Kita ngga bisa ngundang 1000 temen facebook kita kalau calon suami kita ngga mapan. Kita juga ngga bisa bikin resepsi dengan prosesi adat yang kita mau kalau suami kita ngga mapan. Yang lebih jelas lagi, kita ngga bisa menjamin indahnya masa depan kita dan anak-anak kita kelak kalau suami kita ngga mapan. Ada baiknya kita berpikir matang dan jauh lebih ke depan sebelum memutuskan untuk menikah.

Ini sepupu saya, korban tanggal cantik 9-9-2012

Saya masih senang membayangkan menikah muda, tapi sekarang saya lebih memasrahkan impian saya di tangan Sang Maha Pembuat Rencana. Biarlah Dia yang memutuskan kapan saya akan menikah. Saya hanya berharap ketika Dia menentukan waktunya, saya dan calon suami saya nanti yang entah siapa, sudah siap untuk menjalani hari-hari kami kedepan bersama-sama. Bersama-sama juga bertanggung ajab atas keberlangsungan hidup kami dan anak-anak kami kelak, memberikan perlindungan untuk mereka. Karena, di tangan anak-anak kami nantilah kami akan meletakkan sejuta harapan untuk masa depan yang jauh lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar