Hei kamu, yang menulis surat untukku tertanggal 31 Mei 2012. Ini balasan dariku. Bukan puisi, prosa, apalagi cerpen. Hanya pendeskripsian tentang kamu dalam 12 paragraf. Aku ingin mengingatkan bahwa ini akan sedikit panjang. Aku harap kamu tidak bosan. Sudah siap?
Untuk kamu yang
rumahnya hanya berjarak 150 meter dari rumahku. Masih ingatkah kamu saat kamu
mengirim permintaan pertemanan ke akun
Facebookku? Entah apa yang mendorongmu melakukan itu, dan entah apa yang
mendorongku untuk mengkonfirmasi permintaanmu. Tapi yang aku tahu, hari-hariku
berubah sejak saat itu.
Dan masih ingatkah
kamu sapaan pertamamu di dinding Facebookku? Menanyakan kabarku, bagaimana
kuliahku dan hal-hal lain yang tidak persis kuingat namun tersimpan manis
disana. Aku yang hanya menanggapi itu dengan senyum biasa tanpa rasa apapun
karena yang kuingat kamu adalah teman kecilku, karena kamu adalah sepupu
sahabatku.
Tiga bulan
selanjutnya, hari-hariku berjalan normal dengan kesibukan kuliahku, kamu dengan
pekerjaanmu. Aku dan kamu tidak lagi saling sapa di dinding Facebook, tapi aku
masih mengingat baik ketika akhirnya aku dan kamu saling menyapa di dunia
nyata. Entah apa yang terjadi dengan susunan bintang-bintang di galaksi ketika
aku dan kamu menjadi sering berpapasan, bertemu di rumah sahabatku. Melihatmu
sekilas di perjalanan menuju kampusku.
Firasatku tidak
mengatakan apa-apa ketika aku menghadiri pesta ulang tahun sahabatku, yang juga
sepupumu. Aku yang datang terlambat secara kebetulan mendapat sisa tempat duduk
persis di seberangmu. Aku suka bertemu denganmu malam itu. Kamu rapih dengan
kemeja yang aku tidak ingat berwarna apa. Dan disaat yang sama, secara aneh aku
ternyata tidak suka melihatmu yang duduk ditemani perempuan manis berjilbab
yang tersenyum simpul tanda senang ditambah pipi yang merah merona tanda malu.
Aku yang tanpa sadar terus menerus memandang iri kalian berdua lalu tersentak
kaget ketika mendengar sahabatku memanggil namaku di barisan ucapan terima kasihnya.
Aku tersenyum pada sepupumu dan mulai berusaha memalingkan pandang darimu.
Di menit-menit
selanjutnya pada malam itu, aku yang telah melupakan hadirmu kembali tersentak
kaget ketika tiba-tiba kamu sudah duduk di sebelahku, menanyakan nomor ponselku.
Aku menyebutkan nomorku dengan bayangan kamu dan perempuan tadi di otakku. Kamu
menyimpan nomorku dan berjanji akan menghubungiku, aku pun tersenyum sambil
diam-diam melupakan kata-kata yang belum kering dari bibirmu dengan kembali
hanyut bersama teman-teman SMAku dan kenangan di dalamnya.
Bulan penuh
menampakkan dirinya ketika aku berjalan pulang malam itu. Langkah demi langkah
menjejak meghempas pelan debu jalan dan aku pastikan kamu ada di salah satu
langkah yang kutinggalkan, bersama juga dengan perempuan itu jika aku boleh menambahkan.
Aku sudah bersiap-siap untuk tidur ketika serombongan nomor acak yang tidak
kukenal menyapa melalui sebuah pesan singkat. Terpikir untuk mengabaikan tetapi
entah mengapa tanganku tiba-tiba sudah membalas dengan menanyakan siapa kamu
yang mampir ke inbox-ku. Dan ternyata itu kamu, empat huruf yang tadi kutemui
di pesta ulang tahun sahabatku. Kita mengobrol lewat barisan pesan singkat,
yang kemudian terhenti karena aku tertidur. Malam sudah terlalu larut bagiku,
dan kamu menutupnya dengan ucapan selamat malam yang tidak sempat kubalas
namun kubaca dengan bibir melengkung keesokan paginya, bertahan sampai
matahari tidur di peraduan dan berganti bulan yang meronda menjaga dunia.
6 hari setelahnya,
aku berulang tahun. Puluhan ucapan selamat bergandeng doa datang dari keluarga
dan teman-temanku, namun ternyata ucapan darimulah yang mampu melonjakkan
jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga mengacak-acak isi perutku.
Aku pun tersenyum, tapi seketika bayangan perempuan berjilbab itu menonjok pipiku
sesaat setelah aku menanyakan identitasnya pada sahabatku, yang juga sepupumu.
Dia, tiga huruf yang menyadarkan aku betapa kamu terlihat begitu serasi
dengannya pada malam itu. Aku tersenyum, getir. Tekadku bulat, kali ini aku
akan melupakanmu.
Hari demi hari
berganti yang kemudian tanpa terasa sudah layak untuk dihitung sebagai satuan
bulan. Darimulah aku tahu bahwa satuan waktu itu sudah berwujud 5 bulan. Ya,
ternyata sudah 5 bulan tepatnya kamu datang dan pergi di hidupku. Aku
bermasalah dengan ingatan jangka pendek, angka, hari dan segala sesuatu yang
bisa mengukur satuan waktu. Yang kuingat bahwa kamu ada dalam waktu yang cukup
lama. Dalam waktu yang cukup lama itu juga aku kemudian tahu bahwa kamu
memiliki rasa itu, bahwa kamu menambahkan kata kepemilikan yang merujuk pada
dirimu di akhir namaku, bahwa ternyata perempuan berjilbab itu bukan
siapa-siapa dan hal-hal lain yang tidak kuingat persis namun bisa membuat
jantungku kembali melonjak, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga
mengacak-acak isi perutku. Kamu persis seperti bulan yang datang ketika aku
masih ingin menikmati matahari, seperti pelangi yang muncul ketika aku masih
ingin menari di bawah hujan, atau seperti fajar yang terbit ketika aku masih
ingin menatap pendar bintang. Kamu yang
indah, tetapi pergi dan kembali di saat yang tidak tepat. Kamu pergi saat
aku benar-benar ingin menghabiskan liburan Idul Fitri bersamamu, dan kembali saat
aku benar-benar sudah mengikhlaskan kepergianmu.
Hei kamu yang
sering cemberut ketika kupanggil Mister. Sudah ratusan cerita tentang kamu yang
tidak ada habisnya kuceritakan kepada dua sahabatku, yang salah satunya adalah
sepupumu. Ratusan cerita tentang orang yang sama, tentang harapan yang pupus
namun di lain waktu kembali bermekaran, tentang sepi yang menjadi ramai
karenamu namun kembali menyepi di lain hari. Ratusan cerita yang kuceritakan
sampai berbusa; menggantung di dinding kamar, yang terbang tertiup angin maupun
yang hilir mudik di ponsel kami, membuat gaduh karena deringnya. Cerita yang
mungkin hanya kautahu sebagian karena bagian lainnya rapat kusimpan dan hanya
kuceritakan pada Tuhan.
Hei kamu yang manis
ketika tersenyum, seperti Tuhan menambahkan ice cream cokelat di lengkung
bibirmu. Tahukah kamu bahwa kini aku memiliki kebiasaan baru, seperti
menyelipkan namamu di rapalan doa yang kupanjatkan di lima waktu ibadah wajibku.
Kamu juga pasti belum tahu bahwa kini selalu datang desir aneh yang menjalar di
setiap penyebutan namamu, juga sensasi aneh di perutku ketika teringat
kata-katamu seperti ada kupu-kupu berterbangan liar disana. Itu semua salahmu! Dan lucunya takdir yang terkadang mengecoh
logika ketika aku yang tidak bisa melihatmu padahal aku sangat menginginkan
itu, atau kamu yang tiba-tiba menampakkan diri ketika aku berusaha menghindarimu.
Tapi itulah sesuatu yang kita sebut ketentuan Tuhan. Kamu yang datang
ketika aku sudah mengikhlaskanmu, dan mungkin nanti aku juga harus melepas
pinjaman Tuhan yang berwujud dirimu ketika datang tenggat waktunya.
Dan inilah
paragraf terakhir, yang jika ingin kauhitung genap berjumlah 12. Angka yang
kusuka karena mengingatkanku pada dirimu. Angka
dimana tangan kirimu dan tangan kananku menjadi satu genggam, dimana aku dan
kamu luruh menjadi satu kata, kita.
Dari perempuan yang awal namanya berabjad sama denganmu
El Balgis tanpa Al Katiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar