Jumat, 04 Januari 2013

Kamu dalam 12 Paragraf


      Hei kamu, yang menulis surat untukku tertanggal 31 Mei 2012. Ini balasan dariku. Bukan puisi, prosa, apalagi cerpen. Hanya pendeskripsian tentang kamu dalam 12 paragraf. Aku ingin mengingatkan bahwa ini akan sedikit panjang. Aku harap kamu tidak bosan. Sudah siap?

     Untuk kamu yang rumahnya hanya berjarak 150 meter dari rumahku. Masih ingatkah kamu saat kamu mengirim permintaan pertemanan ke  akun Facebookku? Entah apa yang mendorongmu melakukan itu, dan entah apa yang mendorongku untuk mengkonfirmasi permintaanmu. Tapi yang aku tahu, hari-hariku berubah sejak saat itu.

      Dan masih ingatkah kamu sapaan pertamamu di dinding Facebookku? Menanyakan kabarku, bagaimana kuliahku dan hal-hal lain yang tidak persis kuingat namun tersimpan manis disana. Aku yang hanya menanggapi itu dengan senyum biasa tanpa rasa apapun karena yang kuingat kamu adalah teman kecilku, karena kamu adalah sepupu sahabatku.

   Tiga bulan selanjutnya, hari-hariku berjalan normal dengan kesibukan kuliahku, kamu dengan pekerjaanmu. Aku dan kamu tidak lagi saling sapa di dinding Facebook, tapi aku masih mengingat baik ketika akhirnya aku dan kamu saling menyapa di dunia nyata. Entah apa yang terjadi dengan susunan bintang-bintang di galaksi ketika aku dan kamu menjadi sering berpapasan, bertemu di rumah sahabatku. Melihatmu sekilas di perjalanan menuju kampusku.

      Firasatku tidak mengatakan apa-apa ketika aku menghadiri pesta ulang tahun sahabatku, yang juga sepupumu. Aku yang datang terlambat secara kebetulan mendapat sisa tempat duduk persis di seberangmu. Aku suka bertemu denganmu malam itu. Kamu rapih dengan kemeja yang aku tidak ingat berwarna apa. Dan disaat yang sama, secara aneh aku ternyata tidak suka melihatmu yang duduk ditemani perempuan manis berjilbab yang tersenyum simpul tanda senang ditambah pipi yang merah merona tanda malu. Aku yang tanpa sadar terus menerus memandang iri kalian berdua lalu tersentak kaget ketika mendengar sahabatku memanggil namaku di barisan ucapan terima kasihnya. Aku tersenyum pada sepupumu dan mulai berusaha memalingkan pandang darimu.
   
         Di menit-menit selanjutnya pada malam itu, aku yang telah melupakan hadirmu kembali tersentak kaget ketika tiba-tiba kamu sudah duduk di sebelahku, menanyakan nomor ponselku. Aku menyebutkan nomorku dengan bayangan kamu dan perempuan tadi di otakku. Kamu menyimpan nomorku dan berjanji akan menghubungiku, aku pun tersenyum sambil diam-diam melupakan kata-kata yang belum kering dari bibirmu dengan kembali hanyut bersama teman-teman SMAku dan kenangan di dalamnya.

      Bulan penuh menampakkan dirinya ketika aku berjalan pulang malam itu. Langkah demi langkah menjejak meghempas pelan debu jalan dan aku pastikan kamu ada di salah satu langkah yang kutinggalkan, bersama juga dengan perempuan itu jika aku boleh menambahkan. Aku sudah bersiap-siap untuk tidur ketika serombongan nomor acak yang tidak kukenal menyapa melalui sebuah pesan singkat. Terpikir untuk mengabaikan tetapi entah mengapa tanganku tiba-tiba sudah membalas dengan menanyakan siapa kamu yang mampir ke inbox-ku. Dan ternyata itu kamu, empat huruf yang tadi kutemui di pesta ulang tahun sahabatku. Kita mengobrol lewat barisan pesan singkat, yang kemudian terhenti karena aku tertidur. Malam sudah terlalu larut bagiku, dan kamu menutupnya dengan ucapan selamat malam yang tidak sempat kubalas namun kubaca dengan bibir melengkung keesokan paginya, bertahan sampai matahari tidur di peraduan dan berganti bulan yang meronda menjaga dunia.

          6 hari setelahnya, aku berulang tahun. Puluhan ucapan selamat bergandeng doa datang dari keluarga dan teman-temanku, namun ternyata ucapan darimulah yang mampu melonjakkan jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga mengacak-acak isi perutku. Aku pun tersenyum, tapi seketika bayangan perempuan berjilbab itu menonjok pipiku sesaat setelah aku menanyakan identitasnya pada sahabatku, yang juga sepupumu. Dia, tiga huruf yang menyadarkan aku betapa kamu terlihat begitu serasi dengannya pada malam itu. Aku tersenyum, getir. Tekadku bulat, kali ini aku akan melupakanmu.

           Hari demi hari berganti yang kemudian tanpa terasa sudah layak untuk dihitung sebagai satuan bulan. Darimulah aku tahu bahwa satuan waktu itu sudah berwujud 5 bulan. Ya, ternyata sudah 5 bulan tepatnya kamu datang dan pergi di hidupku. Aku bermasalah dengan ingatan jangka pendek, angka, hari dan segala sesuatu yang bisa mengukur satuan waktu. Yang kuingat bahwa kamu ada dalam waktu yang cukup lama. Dalam waktu yang cukup lama itu juga aku kemudian tahu bahwa kamu memiliki rasa itu, bahwa kamu menambahkan kata kepemilikan yang merujuk pada dirimu di akhir namaku, bahwa ternyata perempuan berjilbab itu bukan siapa-siapa dan hal-hal lain yang tidak kuingat persis namun bisa membuat jantungku kembali melonjak, membuatnya berdetak lebih cepat dan juga mengacak-acak isi perutku. Kamu persis seperti bulan yang datang ketika aku masih ingin menikmati matahari, seperti pelangi yang muncul ketika aku masih ingin menari di bawah hujan, atau seperti fajar yang terbit ketika aku masih ingin menatap pendar bintang. Kamu yang indah, tetapi pergi dan kembali di saat yang tidak tepat. Kamu pergi saat aku benar-benar ingin menghabiskan liburan Idul Fitri bersamamu, dan kembali saat aku benar-benar sudah mengikhlaskan kepergianmu.

          Hei kamu yang sering cemberut ketika kupanggil Mister. Sudah ratusan cerita tentang kamu yang tidak ada habisnya kuceritakan kepada dua sahabatku, yang salah satunya adalah sepupumu. Ratusan cerita tentang orang yang sama, tentang harapan yang pupus namun di lain waktu kembali bermekaran, tentang sepi yang menjadi ramai karenamu namun kembali menyepi di lain hari. Ratusan cerita yang kuceritakan sampai berbusa; menggantung di dinding kamar, yang terbang tertiup angin maupun yang hilir mudik di ponsel kami, membuat gaduh karena deringnya. Cerita yang mungkin hanya kautahu sebagian karena bagian lainnya rapat kusimpan dan hanya kuceritakan pada Tuhan.

             Hei kamu yang manis ketika tersenyum, seperti Tuhan menambahkan ice cream cokelat di lengkung bibirmu. Tahukah kamu bahwa kini aku memiliki kebiasaan baru, seperti menyelipkan namamu di rapalan doa yang kupanjatkan di lima waktu ibadah wajibku. Kamu juga pasti belum tahu bahwa kini selalu datang desir aneh yang menjalar di setiap penyebutan namamu, juga sensasi aneh di perutku ketika teringat kata-katamu seperti ada kupu-kupu berterbangan liar disana. Itu semua salahmu! Dan lucunya takdir yang terkadang mengecoh logika ketika aku yang tidak bisa melihatmu padahal aku sangat menginginkan itu, atau kamu yang tiba-tiba menampakkan diri ketika aku berusaha menghindarimu. Tapi itulah sesuatu yang kita sebut ketentuan Tuhan. Kamu yang datang ketika aku sudah mengikhlaskanmu, dan mungkin nanti aku juga harus melepas pinjaman Tuhan yang berwujud dirimu ketika datang tenggat waktunya.

            Dan inilah paragraf terakhir, yang jika ingin kauhitung genap berjumlah 12. Angka yang kusuka karena mengingatkanku pada dirimu. Angka dimana tangan kirimu dan tangan kananku menjadi satu genggam, dimana aku dan kamu luruh menjadi satu kata, kita.



Dari perempuan yang awal namanya berabjad sama denganmu
El Balgis tanpa Al Katiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar