Hei kamu.
Iya, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Akupun begitu, meski aku
tahu kamu tidak akan menanyakan kabarku. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar
sajakah? Masihkah kamu telat makan? Dulu aku yang sering mengingatkanmu untuk
makan, meski hanya lewat pesan SMS. Karena dulu kita jauh; kamu di Jakarta, aku
di Bogor. Orang bilang itu LDR; Long Distance Relationship. Hubungan dimana
kita hanya bisa memeluk lewat doa, dan mengecup lewat gambar. Sedih ya? Tapi
kamu pasti sekarang sudah tidak sedih lagi. Sudah ada dia di sampingmu. Hei,
mengapa kamu terbelalak seperti itu? Apa kamu heran aku sudah mengetahui hal itu?
Aku sudah tahu. Dia yang di sampingmu sekarang pasti lebih baik, lebih sabar
dan lebih cantik dariku. Lihatlah, dia tersipu malu. Tidak mengapa. Sebelum lupa,
aku ingin bilang kalau untuk itulah aku menulis surat ini. Tidak usah khawatir
aku akan marah jika ia ikut membaca juga. Bukan masalah yang besar, tapi terima
kasih sudah memikirkan perasaanku.
Hei kamu
yang dulu sering menggenggam tanganku, pasti kamu sekarang bertanya-tanya
mengapa aku bisa mengetahui hubungan kalian, bukan? Kalau tidak bertanya pun
tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya. Aku tahu, kalian sudah saling
mengenal lama. Kamu mengenalnya karena ia teman sekelasmu. Kalian dekat
semenjak masuk kuliah dulu. Aku tahu itu, kamu dulu pernah menceritakannya. Kalau
aku tidak salah, dia perempuan yang sering meledek pipimu itu. Ya, kamu lelaki
berpipi lucu, chubby macam perempuan. Pipi yang dulu sering kucubit saking
gemasnya ternyata memancing orang lain untuk mencubitnya juga ya? Lalu kamu
membalasnya dengan meledek poninya, aku tahu itu dari dinding facebookmu. Dia punya
poni seperti Widi Vierra, tapi kamu meledeknya dengan poni anak kelas 5 SD. Aku
tertawa geli saat itu, sedikit kesal karena poniku juga sebenarnya sama
dengannya; poni anak kelas 5 SD. Tapi kamu pasti tidak tahu, karena aku
berjilbab, Sayang. Hei, apa barusan kamu tertawa? Karena mengetahui poniku atau
karena aku memanggilmu Sayang?
Aku juga
tahu, setelah proses ledek-meledek itu, kalian mulai semakin dekat. Dia yang
baru saja putus hubungan dengan mantan pacarnya sering curhat padamu, bukan? Aku
pernah membaca salah satu pesan SMS darinya di ponselmu sewaktu kita bertemu di
rumahku. Malam itu kamu tampan sekali. Kamu membawa martabak keju kesukaanku. Sudah
menjadi kebiasaanmu mengotak-atik ponselku tiap kita bertemu; melihat
playlistku, melihat foto-fotoku dan mungkin membaca pesan masuk juga. Akupun
begitu; senang melihat playlistmu, melihat foto-fotomu dan membaca pesan
masukmu. Malam itu aku juga melihat pesan darinya. Dia sedih karena melihat
timeline twitter mantannya. Saat itu aku hanya tersenyum karena mengetahui kamu
tetaplah lelaki yang baik; yang tidak pernah menolak mendengarkan keluh kesah
orang lain. Di saat yang sama akupun bangga memiliki lelaki sepertimu, walau
tanpa kusangka kebanggaanku itulah yang menghantarkanmu ke gerbang kenyamanan
dengan orang lain, dengan dia tepatnya.
Sayang,
tahukah kamu sebulan sebelum hubungan kita berakhir, aku sudah memiliki firasat
itu? Saat itu, kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku, jarang
meneleponku bahkan kamu jarang membalas pesanku. Aku yang berusaha sabarpun
ternyata tetap memiliki rasa penasaran, Sayang. Aku mulai mencari tahu kabarmu
lewat akun facebook dan twittermu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku
mulai berprasangka yang bukan-bukan, tapi langsung kutepis karena kamu bukan
lelaki yang suka jika aku berpikiran negatif tentangmu. Aku menghindari sekali
berpikir tidak jelas khas perempuan gemini; yang memiliki ‘anak kembar’ di
otaknya. Tidak baik jika aku membiarkan ‘anak kembar itu’ mengambil alih cara
berpikirku, itu menurutmu. Dan aku menurutimu. Aku mengiyakan saja semua
kata-katamu karena kepercayaan adalah modal suatu hubungan, katamu lagi. Aku
percaya itu, karena kamu sudah mengatakannya di awal hubungan kita, jauh
sebelum dia datang.
Firasat
buruk itu semakin menguat pada dua minggu terakhir kebersamaan kita. Kamu benar-benar
menghilang dari hidupku, menjauhiku layaknya orang asing. Kamu pulang ke Bogor,
ke rumah orang tuamu, tetapi kamu tidak menemuiku. Aku yang mulai putus asa
dengan hubungan ini akhirnya memutuskan untuk menemuimu lebih dulu. Kamu yang
sedang tertawa di telepon hanya heran menatap kehadiranku di rumah orang tuamu.
Masih jelas kuingat kata-katamu saat itu, bahwa mungkin kita sudah tidak sejalan
lagi. Bahwa kamu mulai pesimis terhadap hubungan jarak jauh kita, bahwa kamu
mulai muak menghadapi kelakuan childishku. Tangisku pecah saat mendengar kata
itu, muak. Apa kamu sungguh harus
menggunakan kata yang sekasar itu padaku? Akupun pulang dengan hati kecewa,
Sayang. Putus dan mendengar kalimat kasarmu bukanlah akhir yang kuinginkan dari
cerita indah kita. Kita dulu memulainya dengan manis dua tahun lalu, dan apakah
kita harus mengakhirinya dengan cara semenyakitkan ini?
Dan dua
minggu setelah hubungan kita berakhir, kamu menyatakan cinta padanya. Aku tahu
dari timeline twitternya, Sayang. Rupanya hanya butuh waktu yang sebentar
untukmu mencari penggantiku. Tentu saja, kamu sudah memilikinya jauh sebelum
itu, juga menyadari keberadaannya jauh lebih lama dari yang kutahu. Kalian sungguh
pasangan yang serasi. Kamu dan dia sama-sama menginginkan pasangan yang tidak
hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman, bukan? Sedang aku adalah
perempuan yang sensitif, serius dan kaku. Lelaki itu, mantan pacar kekasihmu,
juga sepertiku, aku melihatnya melalui timeline twitternya dan curhatan
kekasihmu dulu. Cinta akan menemukan pasangan yang sejalan dengannya dan
menyisihkan yang tidak sejalan, aku percaya itu. Aku dan lelaki itu, sekarang
sedang sama-sama menunggu dipertemukan dengan yang sejalan oleh cinta yang juga
mempertemukan kalian.
Hei,
kenapa matamu terbelalak seperti itu? Bukan kamu, Sayang. Tetapi kekasihmu. Apa
kamu heran aku masih begitu mengingat detil tentang kekasihmu? Kamu tidak perlu
khawatir, cantik. Aku mengikhlaskan kalian, sungguh. Hei cantik, rileks. Mengapa
alismu masih mengeryit begitu? Kamu pasti heran kenapa aku bisa persis membaca
pikiranmu. Aku juga perempuan, cantik. Sama sepertimu. Bukankah kami, para
perempuan, punya radar canggih yang akan berbunyi nyaring ketika ada perempuan
lain yang juga menyimpan rasa yang sama kepada pasangan kami. Lagi-lagi aku
harus mengatakan, aku bukan perempuan yang patut kau khawatirkan akan merebut
kembali pasanganmu. Aku turut berbahagia melihat kebahagiaan kalian sekarang,
yang sepertinya jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengan saat bersamaku.
Tidak ada
tujuan lain yang menggerakkan jemariku menuliskan surat ini, selain ingin mengucapkan
selamat. Selamat untukmu, Sayang, telah menemukan dia yang kaumau. Jaga hatinya,
jangan kausakiti dia seperti dulu kau pernah menyakitiku. Aku sudah memaafkan perbuatanmu,
mungkin itu bagian yang Tuhan berikan untukku. Selamat juga untukmu, cantik. Kamu
memang pantas mendampingi lelaki hebat seperti dia yang sekarang ada di
sampingmu, orang yang sama yang pernah ada di sampingku dulu. Melalui surat ini
juga aku ingin memberi tahu. Tepat delapan bulan setelah kepergianmu, ada
lelaki sederhana yang melamarku melalui ayahku. Dia memang tidak romantis
sepertimu, juga tidak sehumoris dirimu. Tapi dia bisa membuatku tenang hanya
karena melihat senyumnya. Dia, yang sekarang memasangkan cincin di jari
manisku, tidak menawarkan janji seindah dirimu, tetapi dia memberikan keyakinan.
Bahwa jika keadaan menjadi sulit, dialah orang pertama yang bisa kuhubungi,
yang bisa meminjamkan bahunya untuk kujatuhi air mata. Cinta memang tidak
seindah dongeng, begitu katanya. Tetapi cinta bisa tetap indah karena ada dua
orang yang saling berjanji untuk membuat dongengnya sendiri sampai waktu
memisahkan.
Dari
perempuan yang mencintaimu sampai kehilangan dirinya sendiri,
dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar