Teruntuk
kamu, lelaki berkaos hitam yang muncul di salah satu daftar teman yang online
di home Facebookku. Apa kabar, kamu? Rasanya sudah lama sejak terakhir kali
kita bertemu di balkon Mall kesukaan kita. Ya, tiga bulan yang lalu. Bagaimana
hari-harimu? Masih sibuk seperti dahulu? Semoga sesibuk apapun kamu, kamu masih
sempat untuk sekedar melihat-lihat dinding Facebookku, mengecek apakah kabarku
sebaik kabarmu saat ini.
Hei
kamu si penikmat Mizone, tahukah kamu bahwa malam tadi aku sangat sulit untuk tidur?
Otakku terus berputar, memikirkan apakah kamu disana melakukan hal yang sama
denganku. Sama-sama memutar ulang kenangan-kenangan kita, sama-sama menghitung
kemungkinan-kemungkinan baik yang terjadi bila saat ini kita masih bersama,
atau sama-sama meratapi penyesalan-penyesalan akibat perpisahan kita. Apakah kamu juga seperti itu, Sayangku?
Mungkin saja tidak ya?
Kamu, yang sering kali tertidur di ruang tamu rumah orang tuaku, percayakah kamu
bahwa sampai saat ini, di setiap sudut ruangan yang pernah kaulewati, masih
sangat jelas kulihat setiap rekam jejakmu. Bagaimana kamu yang dulu sering duduk di teras rumahku,
melepas lelah di ruang keluargaku dan juga mengimami sholatku disana.
![]() |
| from tumblr.com |
Kamu, si pelupa yang dulu sering kali
kuingatkan, tidakkah terlihat olehmu bahwa di kedua bola mataku masih sangat
jelas ada sosok lelaki kekamu-kamuan.
Lelaki yang sangat persis seperti kamu; matanya, hidungnya, bibirnya, tubuhnya,
namun entah hatinya. Lelaki yang pernah dengan
caranya sendiri menemani hari-hari beratku, menghapus piluku, membuyarkan
penatku atau sekedar melengkungkan senyumku. Menyiratkan bahwa semua akan
baik-baik saja, dan terus baik-baik saja.
Dan
teruntuk kamu, lelaki yang genggamnya masih tertinggal di jemariku, aku rindu.
Dari Aku,
Perempuan yang pernah sangat dekat dengan Ibumu.
P.S: Selamat hari jadi, kesayanganku. Semoga berbahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar