We talk about our future like we had a clue.
Never thought that one day I’ll be losing you.
In another life, I would make
you stay so I don’t have to say you were the one that got away
-Katy Perry, The One
That Got Away
Salah
satu lagu galau punya Katy Perry yang itu akhir-akhir ini sering banget saya
putar. Saya rewind dan jadi top list saya setiap mau tidur atau lagi iseng ga
ada kerjaan. Jleb aja dengernya kan, ceritanya udah ketemu yang cocok banget,
setipe, udah ngomongin masa depan ngga taunya mesti pisah hhuuuuuaaa L Sort of curhat sih,
tapi memang iya, saya sedang merasakan hal yang persis ada di lirik lagu itu.
I
met him, si Mbep, in the middle of tears. Saya sedang perih-perihnya terluka
karena Mister, juga karena kesalahan yang saya buat sendiri. Saya terlalu cepat
kalah sehingga ketika saat Mister kembali, secepat itu saya luluh and say I do.
Saya kembali mempercayakan semuanya, sampai akhirnya dia pergi *lagi*, and
nothing left for me. Hanya dalam waktu dua minggu Mister kembali dan hati saya
juga kembali porak poranda setelahnya. Dua hari sebelum tahun baru 2014 datang,
saya mendapat surprise dari Allah tentang segala kejahatan Mister yang ternyata
sudah ia lakukan tepat dua hari sejak kami kembali bersama. Yap, dua hari itu
waktu yang sangat kilat, bukan? Awal tahun 2014 saya lewati dengan penuh air
mata, and without any plan, Allah sent me him by so many accidents.
After
those tears, saya bangkit dan iseng tulis surat untuk Allah dan publish it on
my facebook notes. Saya tulis semua permohonan maaf saya, harapan-harapan saya
dengan detail sampai ke masalah cinta. Saya sebutkan tipe orang yang saya
inginkan ada bersama saya, sifat-sifatnya dengan rinci and it was surprising
ketika sesaat setelahnya Allah langsung mengabulkan, sama persis dengan tipe
yang saya mau. Lengkap dengan sifatnya, mungkin hanya miss di masalah waktu
saja. Saya berharap dia the one, tapi mungkin bukan. Dia pergi tepat disaat
semua orang sedang mendoakan saya atas penambahan usia saya, secepat itu. Dia, yang saya panggil Mbep itu, datang
dengan membawa banyak harapan baru bersama dengan halangan yang rasanya sudah
dipaketkan bersama dengan kebahagiaannya.
Si
Mbep yang dengan amat telaten membersihkan luka saya. Saya sempat tidak
menghiraukan dia karena terlalu banyak ketidak mungkinan di antara kita. Banyak
perbedaan dan cobaan yang mesti saya lewati untuk bisa bersama-sama. Tapi mungkin
dengan kuasa Allah, saya benar-benar percaya kuasa ini sampai akhirnya satu
persatu bisa kita lewati dengan sangat baik. Senang rasanya, pada saat itu,
memiliki seseorang yang stand by di samping kita untuk menggenggam tangan kita,
dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi
sungguh Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan. Allah menjanjikan
kesulitan datang bersama dengan kemudahan. Dan di antara kesulitan-kesulitan
yang saya hadapi bersama dengan Mbep, dia benar sungguh datang dengan berbagai
macam kemudahan. Orang tuanya dengan sangat baik menerima saya, menyambut dan
mengakrabkan diri dengan saya. Orang tua saya pun tidak berbeda, menerima dan
memperlakukan Mbep dengan sangat baik layaknya anak sendiri, tidak lupa
menyertakan Mbep di acara keluarga kami yang disambut hangat oleh anggota
keluarga yang lain. Saya yang sebelumnya belum pernah memikirkan ke arah pernikahan
lalu dibimbing Mbep untuk mulai mempertimbangkan segala kemungkinan kesana. Semua
rasanya sudah direncanakan dengan baik dan waktu pun rasanya menyetujui. Semesta
mendukung, saya perlahan mulai yakin atas segala usaha dan ikhtiar yang
ditunjukkan Mbep untuk ke arah sana.
Kemudahan-kemudahan
lain datang satu persatu, namun layaknya pinjaman, ternyata semuanya harus
segera dikembalikan. Allah sudah menetapkan tenggat waktu pengembalian Mbep,
dan saya harus mematuhinya. Saya harus merelakan dia yang pergi dengan membawa
semua rencana-rencana kami. Saya diwajibkan untuk mengikhlaskan semuanya, dan
kembali menunggu janji Allah selanjutnya untuk mempertemukan saya dengan ‘the
one’ saya yang nanti entah siapa.
Sampai
saat ini, tepat tujuh bulan setelah kami tidak lagi bersama, saya perlahan
mulai bisa melepaskan satu persatu bayangan Mbep. Saya mulai menata diri,
memang butuh waktu yang lama sampai saya sesiap ini but that’s fine. Saya terbiasa
untuk progress yang lama ketika sudah berhubungan dengan cinta. Saya mulai awal
tahun 2015 dengan mendoakan segala hal baik untuk Mbep dan keluarganya. Saya masih
berhubungan baik dengan ibunya, sesekali menanyakan kabar dan berakhir menangis
di pojok kamar karena rasa sakit yang masih sama seperti dulu. but that’s really
fine, that’s the process and I’m okay with that. All I need is time to heal
anything. Saya percaya Allah akan menggantikan Mbep dengan yang jauh lebih
baik, saya hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut ‘the one’ saya nanti
yang entah kapan.
With you, I feel different. Not like the others, you wrote the cutest
and sweetest ones.
You were close with my dad, talked everything with my mum and had a
same taste of humor like my sister.
When you’re gone, I feel different. Not like the others, I wrote so
many sad lyrics.
But with you, I lost for words.
-El Abdullah

Well i don't know for sure, but that happened already. Sorry to say but it is our part be, nothing to do with that :(
BalasHapus